Antologi Puisi Mega Vristian

Situs ini berisi antologi puisi Mega Vristian. Dilarang mengutip/mengambil sebagian atau keseluruhan dari puisi-puisi yang ada di situs ini dengan tujuan apapun!

     
Situs Lain
Cerpen Mega
Memoar Mega
 
Arsip Lama
March 2004
April 2004
May 2004
June 2004
 
Saturday, June 05, 2004

DI ULANG TAHUNMU

Raiya
dari celah tirai jendela kamarmu
wajah rembulan tanpa warna
mata kunang-kunang redup pijar cahayanya
tetes airmata menggenang diatas kaca bingkai foto keluarga

3 juni, penaggalan kau lingkari
tak ada roti ulang tahun dengan nyala lilin diatasnya
tak ada ciuman sayang dari kekasih
duka sunyimu kau larung dalam gelombong laut Hongkong

Raiya,
kutahu kau takkan menggelar pesta ulang tahun
disaat rakyat aceh masih berada dalam kubangan darah dan airmata
kerena duka mereka adalah dukamu juga
karena jerit suaramu di negeri kembara adalah suara mereka jua

di hongkong kau baur denganku
seorang buruh migran,yang di negeri sendiri di panggil babu
di bibir senja kita lama berbincang
mengharap saat fajar esok,matahari bersinar kan lebih cerah
karena,
kita adalah perempuan yang berusaha menuntut keadilan
membela hak asasi sesama
hingga buku harian kita tak selalu penuh dengan goresan nestapa
-hari ini sekian rakyat aceh terbunuh
-hari ini buruh migran terkoyak habis hargadirinya

Raiya,
bukankah kita sudah berjanji saling bergandengan tangan
menelusuri negeri kembara ini
meski sebagai perempuan acapkali berurai airmata
saat badai begitu ganas menerpa perjalanan
tapi,
tegar Raiya
jangan rapuh
bukankah perjuangan ini belum selesai !

(hongkong,3 Juni'2004)

ditulis oleh Mega pada pukul 7:55 AM

Thursday, June 03, 2004

ANDINI

aku ingin menyambutmu
dua gerbang kubuka
berkerudung angin
gaunku ronce bunga setaman
derap langkah kaki kuda
mengantarmu menebas jarak


terlalu tergesa mungkin menantangmu
membuka tirai, menyongsong fajar
dan kau turun menjemputku meniti jembatan pelangi

-- cinta kita?

di ranjang kencana purnama
nafas kita menggelombang
mengaduk awan,pecah !
jadi gerimis airmata

(Hongkong,2 Juni'2004)

ditulis oleh Mega pada pukul 9:15 AM


MENCARI PELANGI
(Cerita Tentang Tarmini & Isa Dua Perempuan TKW di Kuala Lumpur Yang
Dijual Paksa Sebagai Pelacur)



hujan di luar jendela
membasuh kota
jutaan jarum putih
menitik daun-daun
menitik tingkap jendela
apakah dikirim langit
menjenguk tarmini
yang sekap di lantai 24

apakah dikirim matahari
menjenguk isa
dua remaja tkw
asal jawa
di kuala lumpur dilacurkan
di kuala lumpur dijajakan
melayani birahi


dua daun kuning meluncur
dikejar sepasang merpati
mandi hujan kejar-kejaran
dua kehidupan hancur
di kuala lumpur
dua tkw dipaksa melacur


derasnya bunda
derasnya duka kembara menekan
menyiksa menghitamkan siang-malam
perempuan-perempuan diperjualbeli
puterimu diperlacurkan
perempuan jadi pemuas nafsu liar lelaki


dari jakarta ke kuala lumpur
meliku jalan kemiskinan
berkeliaran calo birahi
menyergap di tikungan
tarmini dan isa
gadis-gadis desa dijaring
dijalanya
merpati menggelepar
di pasar nafsu mereka dijual


dari jakarta ke pontianak
melintasi entigong sampai ke kuching
pekat menganga berumpan kerja
para perempuan jadi ikannya
sekali masuk bubu
calo birahi menangkap mereka
di piring nafsu dihidangkan


pahitnya bunda
sakitnya hati bapak
hidup papa
aku puterimu
mencoba menyalakn pelita
gelap malah menelanku
hujan ini hujan darah hidupku
republik tak mau tahu tak mau peduli



hujan di luar jendela
hujan duka di hati tarmini dan isa
halilintar menyambar ketidak adilan
hak asasi perempuan terhinakan
memandang dari balik kaca
aku yang perempuan mencoba mencari pelangi

(Hongkong,Juni'2004)

ditulis oleh Mega pada pukul 9:13 AM


PEREMPUAN PERKASA
(Kepada Dewi yang saat ini berada di Jenewa Atas Nama TKI)


kau kenal benar rumah ini
rumah diri kita siapapun mengenalnya
warna pintu dan jendela
kau hapal kita hapal hingga mimpi

kau kenal rumah ini rumah diri kita
kadang berantakan kita hanya sempat
sejenak menyeka keringat di dahi
tangis duka dan sunyi hanya menggenang di hati

tak usah lagi kita saling tutur
rincian catatan halaman waktu kian menebal
kian kusam tertimpa airmata tetesan demi
tetesan darah siksa mengental kaupun kenal

sejak itu dan sejak lama
tanpa debat kita lama sepakat
kita cuma bisa mengepalkan tekad
mengepalkannya sekeras baja demi martabat

gelombang sepi di bawah dermaga dan jembatan
sebentar lagi kau kan tembusi awan teluk
mengarungi padang kelabu menjangkau ujung-ujung mataangin
di zaman kita penjuru tak ubah sehelai kertas gampang ditekuk

kubayangkan di sana tangan dan jarimu yang rajin terlatih duka dan
sepi perempuan
mengetok pintu demi pintu
menempelkan di tembok-tembok kota dan kantor selebaran kisah getir
tki -- kisah kita


sejak lama tanpa debat
kita sepakat dan tahu
kita cuma bisa memilih mengepalkan tekad
seperti saat demo saling bahu-membahu
dan berteriak lantang menuntut keadilan
hak asasi buruh migran kita perjuangkan
diskriminasi kita sobek!


dari kejauhan kau sudah di tangga pesawat
jempol kuacung di antara deru baling-baling
mengucapkan harapan sebelum berangkat
tangan kirimu menggengam tinju : kita jangan menyerah!

kita memang pantang menyerah!!

(Hongkong,Mei 2004)

ditulis oleh Mega pada pukul 9:11 AM

Friday, May 28, 2004

ELEGY OF NIRMALA BONAT *]

By: Mega Vristian

with my virgin hands
from kupang my native land
I carry millions of hope
in crossing unumberable straits and oceans
leaving the motherland
seized by long dry season
make the plain grass cramping


in the country of hope
I imagine to change
my dream into the moon
I will change my dream as a sun
as a ball of gleam of tomorrow
for chasing away the clouds of life


nirmala bonat
nirmala bonat that is my name
a girl of nineteen years old
I left my native village
I left there all I have
changing dreams into reality
as I understand the life has to be fighted
for avoiding the grass of cramping


since my coming in kualalumpur after then
I was working for a family boss
I was staying in a mudhole of sweat
days and nights, days and nights without clock
days and night around the clock

between dream and reality I found then the difference
o, what's a difference between them
made me hardly difficult to distinguish
between a tiger and a humanbeing
both of them
the tiger and the so called human
torning my virgin body
sipping savagely
the fresh blood of my open wounds

my groan and scream meant nothing for my family boss
my groan and scream gave them ecstasy
look like an excited music
when I was fluttering in the flood of blood
I was fluttering and fluttering in the flood of suffering.

nirmala bonat
my name is nirmala bonat
a virgin of nineteen years old
I left my native homeland
hoping to change dream into reality
what's now that I found no more than
the sense of bruise on my heart and my virgin body
when I am looking at the sky
they lived me alone without the sun and the moon
the earth of mine become darken and darken as all of them want to bury my hope life and future.


(Hongkong,Mei'2004)
---------------------------



Note:

*] Nirmala Bonat, is an Indonesian migrant woman worker tortured by her Malaysian boss recenly.

**]. Mega Vristian , an Indonesian migrant woman worker lives in Hong Kong, a painter, the most productive migrant woman worker poet and writer as well as dramastist.

ditulis oleh Mega pada pukul 12:00 AM

Thursday, May 27, 2004

ELEGI NIRMALA BONET
Mega Vristian

dengan tangan perempuan
kujinjing harapan
dari tanah kupang kampung halaman
menyeberang selat dan laut
tinggalkan tanah air
yang kemarau panjang
tempat rumputrumput mengejang

di negeri harapan
kelak mimpi kujadikan bulan
kujadikan matahari
bola cahaya
hari-hari esok
kuseka awan kehidupan

nirmala bonet
namaku nirmala bonet
perempuan
remaja sembilan belasan
kutinggal kampung halaman
kutinggalkan semuanya
kan kutukar mimpi dengan kenyataan
hidup harus diperjuangkan
rumput mengejang tak boleh meregang

di kualalumpur aku tiba
bergelut dengan keringat kerja
pada sebuah keluarga
tapi apalah nasib,
majikan yang kuharap baik hatinya
bikin aku tak lagi bisa bedakan
antara macan dan manusia
tubuhku ia cabik, luka menganga
mereka macan lapar
liar brutal
rintih dan jerit tangisku
tak ia dengar
terpuruk aku dalam genang darah
gelepar. tinggal gelepar

nirmala bonet
namaku nirmala bonet
perempuan
remaja sembilan belasan
kutinggal kampung halaman

mau menukar mimpi dengan kenyataan
tapi perih kini seluruh rasa
memar ini jiwa dan raga
bulan dan matahari
pergi entah ke mana
alam kembali temaram
gelap. perlahan kian pekat
kian pekat
mengubur harapan

(Hongkong,Mei'2004)

ditulis oleh Mega pada pukul 9:24 AM

Sunday, May 23, 2004

YANG SELALU BURU-BURU

Yang selalu buru-buru menghampiriku
Kuselalu siapkan ruang luas, kertas dan sebuah pena
Tidak kopi, kue, atau nasi dan lauk pauknya
Kutahu kau menolaknya, mesti cepat berangkat lagi
Entah ke mana, untuk apa, dan kenapa: meninggalkan rindu

Yang selalu buru-buru menghampiriku
Selalu kucatat hadirmu, juga dengan buru-buru
Kubikin sketmu pada buku, pada lembar-lembar waktu
Kelak seperti janjimu, seperti harapku, seperti doaku
Kan tuntas jelas kulukis wajahmu seutuhnya
Dengan cinta, menjadi cintanya Cinta

Menggores rindu dan cinta hatiku
Kau, yang selalu buru-buru menghampiriku
Seperti aku menggoreskan pena pada kertas-kertasku
Dan berat hatiku melepasmu ke langit biru
Selalu buru-buru, padahal tlah purba
kuingin menyentuhmu

(Hongkong, Mei 2004)

DI HALTE INI TAK ADA YANG KUNANTI

tak ada yang kunanti
selain diri-Nya
yang berjanji menjemputku
dari perjalanan ini
dengan rindu
pada setiaku
pada-Nya
mekarkan langkahku
tarikan kupu-kupu
marakkan kembang-kembang
bawah mentari berputar
mengenang-Nya
di pertemuan itu
di perjalananku
tak ada yang kunanti
selain diri-Nya.
terimakasih
kalau kau mau
menemaniku di sini
dan bercakap
sambil menunggu
Dia menjemputku
menjemputmu

(Hongkong, Mei 2004)
* inspired by “Hanya Engkau yang Kucinta” Yaqin Saja

ditulis oleh Mega pada pukul 12:49 AM

Thursday, May 20, 2004

ACARA MINUM TEH



duduk melingkar di meja bundar

cangkir kecil berjajar rapi harum daun teh memacu dahagaku

kelakar nenek Leung Siu-kam membuat senyumku rekah

acara minum teh memang bisa jadi obrolan nakal

seperti kemarin Lam Long-hin bercerita dia baru punya simpanan lagi

gadis asal China yang ia simpan di Shenzen

syahwat tersalur tanpa perlu mengeluarkan banyak dollar

jelas istri dan anak di Hongkong tak tahu

yang mendengar cuma tersenyum

ini bukan berita mengejutkan

bahkan bisa dibilang sudah menjadi tradisi

tapi dadaku terasa tersumbat daun teh kering, nyeri



berulang kali cangkir mungilku terisi air tandas

kuteguk dicelah siomay yang kusumpit ke mulutku

kini gantian aku yang bercerita pada mereka

bahwa nanti malam Andy Lou dan Jacky Chan mengundangku makan malam

di emperan Jordan Road

makan bebek panggang dengan soup ginseng



bola mata mereka terbeliak nyaris keluar

dipandangnya tubuhku mulai ujung kaki sampai rambut

kutinggalkan mereka dengan tusuk gigi di sudut mulutku

malam nanti mereka akan datang lebih awal dariku

ah, biarlah aku tak mau berebut

sebab Andy Lou dan Jacky Chan juga tak bakal hadir.



(Saat Minum Teh, Hongkong - 2004)

ditulis oleh Mega pada pukul 10:51 AM


TENTU SAJA KAU BOLEH MENULIS NAMAKU *

tentu saja kau boleh menulis namaku
dalam lubuk hatimu
biarlah orang lain tak bisa membacanya
sebab cinta mekar semu diantara kita

tentu saja kau boleh menulis namaku
di setiap lembar kanvas yang kau gelar di buram harimu
karena rindu begitu kuat membelenggumu
sementara cinta masih terpaku ragu

tentu saja kau boleh menulis namaku
di setiap benda yang bisa kau tulisi
di setiap sudut yang kau tempati
di setiap waktu yang kau tapaki
di setiap mimpi yang kau pintal dengan bayang

tentu saja kau boleh menulis namaku
selama kau masih mampu membacanya lagi dengan penuh cinta
sebab diriku sosok cinta yang kau damba

yaumatei di musim dingin '2003

*) terinspirasi dari judul puisi karya Hasan Aspahani




ditulis oleh Mega pada pukul 10:47 AM


MERAJUT KABEL TELPON
: kekasihku

kita bicara tentang sastra
kita bicara tentang lukisan
kita bicara tentang Hongkong dan Indonesia
kita bicara tentang musim yang berbeda
kita bicara mesra berbaur candatawa kita pecah di ujung senja

sekarang telah kukenakan rajutan kabel telpon yang kita rajut bersama
sebagai mantel penghangat rinduku padamu rindumu padaku

jarak memisahkan kita begitu jauh
sepi yang terkadang menyeruak dalam lembar harimu
mungkin itu sepi yang acapkali menghampiri hariku

entah di perempatan waktu mana
kita bisa duduk bersama berbincang tentang pengembaraan kita
atau sekedar mencandai perjalanan nasib kita yang nelangsa
juga jenaka, membikin kita ingin menertawakannya

atau kita rajut lagi kabel telpon jadikan sarung?
dan ini buatmu
bukankah rajutan pertama sudah menjadi mantel penghangat rinduku
karena jarak masih memisahkan kita begitu kuat

---
Hongkong, musim dingin 2003

ditulis oleh Mega pada pukul 10:46 AM


MENIKAH DENGAN BAYANGMU

walau bisaku cuma menikah dengan bayangmu
boleh kubertanya padamu

"gaun pengantin warna apa yang kau suka?"

sebab bila kupakai gaun pengantin berwarna putih
ku ragu kau tak mengenaliku
bukankah pernikahan kita di balik awan

Hongkong, musim gugur '2003




ditulis oleh Mega pada pukul 8:31 AM


SARAPAN

segelas embun ber aroma cinta
sepotong rembulan diolesi awan tipis
oi,inikah sarapan pagiku ?


SARAPAN 2

setumpuk baju kotor terpuruk di sudut kamar mandi
rumah berantakan,debu rebahan di mana-mana
teriak majikan dan keluarganya
minta aneka sarapan membuatku pontang panting
pagi setiap hari selalu saja berlomba dengan matahari

mengusap peluh saja
aku tak sempat
ah semantara
kau menunggu di meja makan kita
bibirmu menyanyikan riang lagu dangdut terbaru
sambil matamu menatap penanggalan,
jatah uang dariku bulan ini bakal datang lagi
diam-diam kau mungkin punya impian lain tentang hari esok

sementara
musikku pagi ini adalah irama keroncongan, perutku
suaraku pagi ini adalah lenguh sapi pembajak ladang
harapanku hari esok, yang kutata hari ini
mungkin seperti lukisanku yang kau robek buang di tempat sampah

(Hongkong,3 Juni'2004)

ditulis oleh Mega pada pukul 8:13 AM

Tuesday, May 18, 2004

DI TENGAH BADAI KUMAINKAN SITERKU

(Cerita Kepada Yang Melempar bara)


hujan angin
bertiup kencang jadi topan
menerpa melanda jalan
aku melangkah
di tengahnya sambil kumainkan siterku

hujan topan
gelombang bergejolak ganas mengundang badai
menabur cerca
udara jadi apak
kulanjutkan terus langkahku
seperti suraku mengikut mantap alunan siter

bergemuruh dedaunan pantai
seperti jutaan titik hujan
jarum-jarum kata berbisa
berhamburan di jalan bersama topan
dan jemariku kian kuat memetik dawai siter
jerit suara hatiku melengking dalam lagu

di angkasa pekad, riuh burung maut bersayap dendam
memburu mengintai bangkai
mencari mayat yang rebah kalah
merekakah, burung-burung maut
kiriman penabur laksaan jarum dendam berbisa?

apak langit
apak ombak
apak jiwa-jiwa lapuk membelatung busuk
seribu demit menabur bisa meracuni bumi
aku masih melangkah tegak di tengahnya

berdebur gelombang membentur karang
luluh sendiri meninggalkan busa
hujan jarum kata berbisa
jatuh dari dedaunan pantai pohon kelapa
di sini, aku kian berlari memburu cahaya

hujan hari ini
hujan angin dan topan dendam
selaksa jarum berbisa bertaburan
ditabur jiwa-jiwa apak dan hitam
aku di tengahnya menggumamkan lagu harapan

hong kong dan perjalanan
hong kong dan pantai bermatahari
harapan dan mimpi
menghalau apak jiwa demit dari langitmu
kutuliskan lirik lagu siter ini menyanyikan lagu kemanusian!
biar saja di tengah terpaan badai kumainkan terus siterku
hingga badai lelah sendiri,mereda !

(Hong Kong, Mei 2004.)

ditulis oleh Mega pada pukul 9:01 AM